Manajemen Inovasi Era Revolusi Industri 4.0

Saat ini kita telah berada pada tahap keempat revolusi industri. Tahap pertama dimulai pada 1784 ketika mekanisasi mulai dikenal. Tahun 1870, kita memasuki tahap revolusi industri kedua ketika barang-barang telah dapat diproduksi secara massal. Revolusi industri tahap ketiga terjadi pada 1969 saat kita telah mengenal komputerisasi dan barang-barang elektronik. Kini, di revolusi industri tahap keempat, segala hal yang kita butuhkan ada di internet. Kita juga mengenal kecerdasan buatan (artificial inteligence). Di sisi lain, saat ini kita tengah berada pada fase ekonomi kelima yaitu society super information. Kita mengenal berbagai sistem seperti sharing economy, start up economy, blue economy, dan lain-lain.

Di tengah kemajuan teknologi yang dapat menggantikan peran manusia di berbagai sektor ekonomi, kita didorong memiliki soft skill. Mengapa demikian?

  1. 47% berpikir soft skill akan menjadikan talenta seorang manusia unik sehingga tidak dapat digantikan teknologi.
  2. 44% berpikir level pemikiran yang lebih tinggi berperan vital dalam era ini.
  3. 43% berpikir soft skill akan membantu individu menyesuaikan dan melatih kembali dirinya sehingga dapat terus melakukan pekerjaan.

Soft skill juga dianggap penting dalam pengembangan karir. Salah satu soft skill yang sangat dibutuhkan adalah critical thinking. Dari hasil penelitian mengenai faktor sukses, disebutkan bahwa tingginya IQ ada di peringkat 21, bersekolah di sekolah favorit ada di peringkat 23, dan lulus di nilai terbaik berada di peringkat 30.

 

10 faktor sukses yang utama:

  1. Jujur
  2. Disiplin
  3. Gaul
  4. Dukungan dari pasangan hidup
  5. Bekerja lebih keras dari yang lain
  6. Mencintai apa yang dikerjakan
  7. Kepemimpinan yang baik dan kuat
  8. Semangat dan berkepribadian kompetitif
  9. Pengelolaan kehidupan yang baik
  10. Kemampuan menjual gagasan dan produk

 

Daya saing Indonesia sendiri sayangnya masih kurang baik.

Namun di luar isu mengenai soft skill, kita juga masih kalah dengan negara lain dalam hal hard skill. Dari total 18.129 jumlah paten selama tahun 2016-2018, 81%-nya berasal dari luar Indonesia. Artinya, paten yang diajukan anak negeri hanya mencapai 4.245 buah (data dari statistik.dgip.go.id).

IPB adalah pemegang paten terbanyak di tingkat perguruan tinggi, yaitu mencapai 39,91%. Dari tahun 2008 hingga 2018, ada total 461 paten dengan 106 di antaranya telah terimplementasi. Inovasi yang dibuat sendiri beragam dan mencakup berbagai bidang. Ada teknologi helm ramah lingkungan, aplikasi pendeteksi tangis bayi, hingga aplikasi yang memeriksa tingkat kemanisan buah.

 

Leave a reply